Mengenal Istilah-istilah dalam Pengolahan Sawah Desa Gemaharjo

Penduduk Desa Gemaharjo sebagian besar memiliki mata pencaharian sebagai petani. Lebih dari 70% dari total jumlah penduduk bergantung pada mata pencaharian ini. Dalam kesehariannya para petani tidak hanya mengolah lahan perkebunan tapi juga persawahan. Musim hujan yang sudah mulai sejak beberapa waktu lalu menandakan bahwa para petani harus mulai menggarap sawah. Berikut adalah beberapa istilah yang dikenal oleh masyarakat Gemaharjo tentang tahapan-tahapan pengolahan  sawah:

Kegiatan Tandur ibu-ibu Dusun Clumpring
  1. Macul. Macul atau dalam bahasa indonesia adalah mencangkul, merupakan istilah umum yang digunakan untuk pengerjaan lahan dengan menggunakan cangkul. Dalam bahasa jawa cangkul adalah pacul. Namun macul jarang berkaitan dengan mananam padi karena identik dengan menggarap lahan dalam kondisi kering. Karena menggarap lahan dalam kondisi basah bisa lain istilah. Biasanya macul itu menggarap lahan di kebun, tegalan atau sawah yang hendak ditanami palawija. Istilahnya beda lagi kalau menyiapkan lahan untuk ditanami ubi jalar.
  2. Ngurit. Ngurit adalah istilah dalam menyiapkan bibit padi. Petani ngurit berarti petani menebar butir-butir padi di area persemaian yang telah disiapkan. Ngurit ini dilakukan beberapa minggu sebelum proses penggarapan lahan dimulai. Petani biasa menanam bibit padi antara 3-5 minggu sejak diurit.
  3. Ngluku. Pekerjaan ini adalah membuka lahan dengan menggunakan luku. Luku adalah bajak dalam bahasa Jawa. Ngluku dikerjakan agar tanah berbalik sehingga tanah bisa bertukar posisi, terkena udara, dan mendapatkan sinar matahari. Ngluku dibantu dua ekor sapi atau kerbau, tergantung hewan apa yang tersedia di dareah masing-masing.
  4. Nggaru. Nggaru adalah meratakan tanah dengan menggunakan garu. Kalau luku itu menggunakan lempengan logam besar untuk membalik tanah, maka nggaru menggunakan rentang kayu bergerigi seperti sisir. gunanya untuk meratakan tanah sehingga semua permukaan air di hamparan sawah itu terairi dengan baik. Nggaru juga dibantu dengan dua ekor sapi atau kerbau.
  5. Angkler. Angkler ketika menggarap lahan yang disiapkan untuk ditanami padi. Angkler ini merupakan pekerjaan untuk menyempurnakan lahan yang sebelumnya di bajak. Bentuk pekerjaannya bisa meratakan permukaan tanah, menguruk bagian yang terlalu cekung, hingga menyempurnakan lahan yang tadinya ada paritnya dengan menutup memakai tanah sehingga rata dan bisa ditanami padi. Termasuk dalam angkler adalah membuat pematang sawah, atau biasa disebut tembok. Angkler menggunakan cangkul dan kadang dibantu sorok.
  6. Tembok. Tembok kegiatan utamannya adalah mengerjakan pematang sawah. biasanya pematang sawah dibongkar untuk diganti baru. atau kadang pula di kepras tinggal separo untuk kemudian ditambahkan dengan bagian yang baru. Biasanya tembok dikerjakan oleh pemilik lahan sementara buruh tani membajak sawah.
  7. Ndaut. Ndaut adalah kegiatan mencabut bibit dari persemaian. Ndaut ini biasanya dikerjakan setelah lahan siap dan umur bibit dirasa cukup. Petani terbiasa mempersiapkan bibit padi beberapa saat sebelum panen tanaman sebelumnya sehingga begitu pengerjaan lahan selesai, tinggal ndaut dan segera ditanami adi.
  8. Tandur. Tandur adalah menanam benih padi di lahan yang telah disiapkan. Tandur biasanya dikerjakan oleh ibu-ibu setelah sebelumnya ngluku, nggaru, tembok, dikerjakan oleh bapak-bapak. Dalam sebuah bentang sawah, tandur biasanya dikerjakan bersama-sama oleh beberapa ibu-ibu sehingga pekerjaan lebih cepat selesai.
  9. Matun. Matun adalah kegiatan menyiangi rumput beberapa minggu setelah padi di tanam. Matun biasanya juga dikerjakan ibu-ibu walaupun kadang bapak-bapak juga mengambil peran dalam pekerjaan ini. Matun menyiangi rumput agar tidak mengambil nutrisi tanaman padi. Kadang rumput-rumput itu bibuang ke pematang sawah, namun kadang rumput-rumput itu dibenamkan di lahan, sehingga menjadi pupuk tambahan. Matun dikerjakan dengan tangan dan kadang menggunakan alat. Namun matun dengan tangan biasanya hasilnya lebih memuaskan daripada dengan alat. Tetapi waktu yang dibutuhkan lebih lama.
  10. Tunggu manuk. Setelah padi mulai berbuah biasanya ada hama tanaman. yang paling sering adalah burung. Burung pipit atau emprit suka sekali pada buah padi utamanya ketika masih muda. Maka petani kemudian terbiasa tunggu manuk. Bukan menunggu burung, tetapi menunggu padi dari serangan burung. Pekerjaan ini dulu diambil oleh anak-anak. Tapi kini kadang anak-anak malas dan digantikan orang tua. Tak jarang petani membangun gubuk di tengah sawah untuk kepentingan tunggu manuk ini.
  11. Derep. Derep adalah kegiatan menanam padi. Derep menggunakan alat yang bernama ani-ani. Ani-ani adalah alat dari sekeping kayu dan bambu kecil dengansebilah logam di pinggir kayu yang berfungsi sebagai pisau. pisau inilah yang digunakan untuk memotong bulir padi dari batangnya. Sebagaimana tandur, derep juga diambil perannya oleh ibu-ibu. Ibu-ibu yang derep biasanya akan mendapatkan upahnya seper sepuluh dari hasil yang ia dapatkan. Upah ini namanya bawon. Dalam kebiasaannya ibu-ibu yang derep adalah mereka yang dulunya ikut tandur. Namun bisa juga keadannya lain ketika padi di jual di sawah. Penebas biasanya membawa tenaga kerja sendiri.
  12. Ngebaske. Nebaske berarti menjual padi di sawah kepada tukang tebas padi. Ini beda dengan ketika petani memanen sendiri hasil panen mereka kemudian mengolahnya hingga jadi beras untuk dijual.

Dari sekian tahapan pengolahan sawah di Desa Gemaharjo, hampir keseluruhan dikerjakan oleh masyarakat Gemaharjo sendiri, baik dengan gotong royong maupun dengan sistem pemberian upah harian.

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan